• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • RSS Feed

Wednesday, July 28, 2010

Senin, 21 Juni 2010, di Blitar, Jawa Timur, berlangsung haul Bung Karno ke - 40.

Ketika Bung karno wafat, Presiden Soeharto waktu itu di depan para pemimimpin partai politik mengatakan, “Kita harus memberikan penghargaan atas jasa-jasa beliau sebagai pejuang yangluar biasa. Sejak dulu beliau adalah pejuang, perintis kemerdekaan. Sebagai proklamator, beliau tidak ada bandingannya.”

Berfikir mengenai Bung Karno, selalu saya bertolak dari ingatan bahwa manusia memang tidak ada yang sempurna. Jangankan manusia biasa, nabi pun bias khilaf, “ demikian kata Soeharto dalam buku otobiografi Soeharto; Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya seperti dipaparkan kepada G Dwipayana dan Ramadhan KH.

Pak Harto pada tahun 1980 mendirikan patung Bung Karno dan Bung Hatta di Jalan Proklamasi, Jakarta. Tahun 1985, Pak Harto menetapkan nama Bandar udara di Cengkareng dengan nama Soekarno-Hatta. Tahun 1986, Bung Karno dan Bung Hatta ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator.

Minggu, 27 Januari 2008, Pak Harto wafat. Dalam upacara pemakaman Pak Harto di Astana Giri Bangun, Solo, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertindak sebagai inspektur upacara. Dalam pidatonya, SBY menyebut Pak Harto sebagai Bapak Pembangunan.

Kamis, 31 Desember 2009, mantan Presiden KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat. Dalam upacara pemakaman di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam suara yang menyentuh hati para pendengarnya mengatakan, “Selamat jalan Bapak Pluralisme kita, semoga tenang di sisi Allah SWT.”

Suara SBY di antara ribuan orang yang melayat waktu itu sekali lagi, menyentuh hati. Suara itu diucapkan ketika angin berdesau. Suara SBY mengalun indah, tulus, dan diterima dengan ikhlas oleh alam semesta ini.

Sikap Soeharto dan SBY member penghormatan terakhir kepada para mantan Presiden atau pendahulunya membuat manusia merasakan apa yang ada dalam ungkapan bahasa Latin, Mors ianua vitae, bahwa kematian itu adalah pintu kehidupan. (J OSDAR/Kompas)



Kekumuhan kota dan penanganannya menjadi salah satu subtema yang dibahas dalam Konferensi Menteri – Menteri Perumahan dan Pengembangan Perkotaan se-Asia Pasifik (APM-CHUD) ke-3 yang diselenggarakan di Kota Solo, Jawa Tengah, 22-24 Juni 2010. Demikian dikatakan Ketua Tim Pelaksana APMCHUD yang juga Menteri Perumahan Rakyat, Suharso Monoarfa dalam konferensi pers di Solo, Senin (21/6) Data Perserikatan Bangsa – Bangsa menyebutkan, penduduk perkotaan dunia diproyeksikan meningkat dua kali lipat, dari 3,3 miliar pada 2007 menjadi 6,4 miliar pada tahun 2050. Pada 2020 diperkirakan populasi penduduk kawasan kumuh dunia 1,4 miliar dan satu dari dua warga kumuh itu terdapat di Asia. Pertemuan ini akan berbagi upaya dan kebijakan mengantisipasi kondisi ini.(EKI/Kompas)


 
© 2012. Design by Main-Blogger - Blogger Template and Blogging Stuff